26 November 2010

Jumlah Relawan Semakin Menurun, Anak-Anak di Pengungsian Terabaikan


JALIN MERAPI (Magelang, Kamis, 25 Nov 2010). Jumlah relawan di barak pengungsian di Kota Magelang kian hari jumlahnya ternyata makin sedikit. Bahkan, hingga Rabu (24/11) kemarin, dari pantauan di Barak Bumi Kyai Sepanjang, relawan non TNI dan karyawan Pemkot Magelang jumlahnya hanya segelintir. Hari-hari tertentu, mereka bahkan tak ada sama sekali. Kondisi ini tak pelak membuat anak-anak pengungsi terkesan liar di barak. Tak ada yang membimbing mereka dalam bermain maupun belajar.

Padahal, menurut Suharjo, Sekretaris Disnakertrans yang tiap hari bertugas di barak tersebut, hingga sekarang, jumlah pengungsi yang menempati Bumi Kyai Sepanjang masih relatif sama dengan awal dibuka dulu. “Hanya berkurang sedikit, hanya puluhan warga yang sudah pulang ke rumah mereka masing-masing," ungkap Harjo, sapaan akrabnya. Berdasarkan data Satkorlak per tanggal 21 November kemarin, masih terdapat 689 warga yang menempati pos yang dikelola Pemkot Magelang ini.

Harjo mengungkapkan, pada awal Gedung Bumi Kyai Sepanjang dibuka sebagai tempat pengungsian, jumlah relawan membludak, dalam seharinya rata-rata ada sepuluh relawan non TNI dan karyawan Pemkot yang membantu mengurus pengungsi."Mereka rata-rata pelajar dan mahasiswa," kata Harjo, sapaannya. "Sepertinya mereka (relawan-red) sudah pada jenuh Mas," duga Harjo.

Akhmad Nasir, Direktur Combine Resource Institution, menyatakan bahwa menurunnya jumlah relawan disebabkan perkuliahan dan sekolah sudah aktif kembali. Nasir mencontohkan, “Sebagian relawan Jalin Merapi yang sangat militan sekarang menurun intensitas kerjanya karena mereka masih kuliah. Jadi, mereka harus membagi waktu dengan kuliah mereka.” Selain faktor kuliah dan sekolah yang sudah aktif tersebut, Nasir menduga terdapat anggapan di kalangan relawan bahwa kebutuhan relawan sudah tidak terlalu urgen ketika warga sudah kembali ke rumah. Faktor pengetahuan tentang kondisi lapangan ini diduga membuat beberapa relawan memilih berhenti beraktivitas sebagai relawan. Padahal, menurut Nasir, tenaga relawan masih sangat dibutuhkan hingga saat ini, termasuk ketika para pengungsi sudah kembali ke rumah.

Harjo berharap kepada kalangan pelajar SMA dan mahasiswa untuk berkenan kembali menjadi relawan di Bumi Kyai Sepanjang. Saat ini, ujar dia, relawan di Bumi Kyai Sepanjang didominasi oleh TNI dan karyawan Pemkot, itu pun sudah punya tugas tetap yakni di dapur umum dan mengurus logistik. Sedang untuk masalah pendidikan dan bermain anak belum ada yang mengurus. "Jadi wajar, kalau anak-anak tiap harinya berkeliaran di sekitar posko," katanya.

Relawan dari pelajar dan mahasiswa, saat ini sangat dibutuhkan guna membimbing anak-anak di pos pengungsian."Sekolah darurat memang ada tapi waktunya cuma sedikit. sehingga anak-anak lebih banyak tak terkontrol," ujar Harjo. Untuk itu, Harjo membuka seluas-luasnya kepada pelajar dan mahasiswa untuk menjadi relawan, dan akan diberi tugas membimbing anak-anak agar tidak berkeliaran di sekitar posko."Biar mereka (anak-anak-red) punya kegiatan yang positif. Bermain sambil belajar lah," ungkapnya. (AAW, relawan Jalin Merapi Magelang

Labels: ,

Baca Selengkapnya ...

23 November 2010

Codeku Aman Codeku Nyaman


JALIN MERAPI (Yogyakarta, Selasa, 23 Nov 2010). Pasir dan material vulkanik lainnya yang mengendap di sepanjang aliran sungai yang berhulu di lereng Merapi ternyata membawa berkah tersendiri bagi warga yang tinggal di sekitar daerah aliran sungai.

Salah satu warga yang menikmati berkah tersebut adalah Suladi, seorang karyawan di sebuah perusahaan pakaian yang berada di Kota Yogyakarta. Ketika relawan Jalin Merapi datang, tampak Suladi sedang mencangkuli pasir di belakang rumahnya, ditemani anak dan istrinya yang duduk di atas tangga. Suladi mencangkuli pasir untuk membangun rumah di daerah Bantul. Seorang teman sudah memesan pasir yang dia kumpulkan. Pada saat bersamaan, tampak warga lainnya yang juga sudah turun ke kali untuk mengambil pasir. Pasir yang ada di kali tersebut ternyata pasir yang istimewa dan lembut, jadi tidak perlu diayak lagi. Di pasaran, harga pasir ini cukup tinggi, mencapai Rp 120.000 untuk satu bak mobil pick up.

Selain keuntungan berupa penggalian pasir untuk digunakan sendiri maupun dijual, terdapat juga beberapa kerugian yang diderita warga. Banyak persediaan air bersih warga menjadi kotor. Beberapa kamar mandi warga rusak berat, meski sudah diperbaiki, namun sampai sekarang belum bisa digunakan. Akhirnya, beberapa warga menumpang mandi di sumur tetangga yang tempatnya lebih di atas sedikit. Kerugian lainnya, tempat bermain dan berkumpul anak-anak, misalnya tanah lapang untuk bermain bola, menjadi becek dipenuhi pasir.

Hingga sekarang, untuk mengantisipasi luapan pasir dan air Kali Code, warga memperketat ronda.Warga di sekitar daerah aliran Kali Code tidak merasa risau karena air dan pasir tidak sampai ke atas, ke rumah mereka. Sampai sekarang, bantaran Kali Code masih nyaman untuk mereka. Bahkan, belakangan ini, pemandangan endapan pasir yang merata di seluruh badan sungai, ditambah anak-anak yang asyik bermain di tengah-tengah endapan pasir tersebut, menjadi tontonan orang-orang yang berlalu lalang.

Akibat lahar dingin Merapi, banyak permukaan sungai di wilayah Yogyakarta yang naik hingga 2 meter, misalnya Kali Code, Kali Kuning dan Kali Mboyong. Naik permukaan sungai tersebut bukan karena luapan air, melainkan karena timbunan pasir dan lumpur yang terbawa dari atas. Di bantaran Kali Code, di Desa Gondolayu, Kelurahan Kotabaru, ketinggian pasir mencapai satu setengah meter. (Aan Mei Handoko

Labels: ,

Baca Selengkapnya ...

22 November 2010

Pemprov Yogya Siapkan 2.500 Rumah Sementara Korban Merapi


VHRmedia, Yogyakarta – Posko Kemanusiaan Jenggala di Dusun Wonosari Babadan, Sleman, akan membangun 2.500 rumah sementara untuk korban letusan Gunung Merapi. Rumah sementara akan ditempati warga sambil menunggu perbaikan rumah yang rusak akibat letusan Merapi.

Gubernur Yogyakarta Sultan Hamengku Buwono X mengatakan, untuk tahap awal akan dibangun 300 unit rumah sementara. “Saya harap banyak kelompok, individu, perusahaan, maupun BUMN yang ikut membantu pembangunan shelter tahap selanjutnya,” kata Sultan Hamengku Buwono X, ketika meresmikan rumah contoh di Posko Jenggala, Senin (22/11).

Menurut Sultan, satu unit rumah menghabiskan dana Rp 6,5 juta hingga Rp 7 juta. Rumah berukuran 36 meter persegi itu terdiri atas 2 kamar tidur, 1 kamar mandi, ruang tamu, dan dapur. “Pembangunan shelter tahap pertama diperkirakan memakan waktu 3 minggu hingga satu bulan.”

Pembangunan rumah sementara akan melibatkan pengungsi dan memanfaatkan bahan baku lokal. ”Warga yang punya kayu, silakan dijual ke Badan Nasional Penanggulangan Bencana. Supaya mendorong perekonomian,” kata Sultan.

Proyek percontohan rumah sementara korban Merapi akan dibangun di Dusun Plosokerep, Desa Umbulharjo.

Rumah sementara pengungsi Merapi direncanakan dibangun di Dusun Pagerjurang, Desa Kepuharjo (826 unit), Dusun Banjarsari, Desa Glagaharjo (802 unit), Dusun Srodokan, Desa Wukirsari (340 unit), Dusun Kowang, Desa Argomulyo (258 unit), dan Desa Sindumartani (15 unit).

“Shelter saat ini masih dikerjakan di workshop Posko Jenggala. Jika kondisi sudah aman, kerangka bangunan tersebut akan diangkut ke atas untuk didirikan,” ujar Sultan Hamengku Buwono. (E1) Foto: VHRmedia/Fajar Sodiq

Labels: ,

Baca Selengkapnya ...

Bantuan di Maguwoharjo: Masuk Gampang, Keluar Susah


JALIN MERAPI, Sleman. Membawa bantuan untuk korban bencana Merapi? Jangan datang ke Sleman, apalagi ke posko Stadion Maguwoharjo. Lebih baik, bawa bantuan Anda ke Muntilan, Mungkid, dan daerah-daerah lainnya di Magelang. Jauh lebih baik, berikan bantuan langsung ke posko-posko mandiri yang dikelola warga dan pengungsi.

Saran di atas bukan tanpa dasar. Jumat (19/11), Jalin Merapi datang ke Maguwoharjo untuk kesekian kali, berbincang dengan seorang petugas di salah satu gudang bantuan yang ada. “Kalau mau memberi bantuan, bagaimana caranya?” tanya Jalin Merapi. Petugas tersebut menjelaskan bahwa caranya sangat mudah, cukup datang membawa bantuan, mengisi formulir penerimaan bantuan, setelah itu bantuan akan masuk gudang. Pengamatan Jalin Merapi di stadion ini membuktikan kemudahan tersebut, pemberi bantuan datang, mengisi formulir, bantuan masuk gudang, selesai.

Berbincang lebih jauh, petugas tersebut justru menyarankan agar mengarahkan bantuan ke daerah Magelang. Menurutnya, bantuan di Maguwoharjo dan Sleman secara umum sudah cukup. Sementara, menurut dugaan petugas tersebut, bantuan di Muntilan, Mungkid, dan daerah Magelang lainnya masih kurang. “Banyak yang dari Muntilan datang ke sini minta bantuan. Tapi gak bisa, soalnya yang harus mencukupi kebutuhan pengungsi adalah pemerintah kabupatennya masing-masing,” terang petugas tersebut. “Kalau Mas mau agak repot sedikit, datang ke pengungsi yang di rumah-rumah warga saja, banyak yang belum tersentuh bantuan,” lanjutnya.

Jalin Merapi memperoleh pernyataan serupa, bahwa bantuan di Maguwoharjo sudah cukup, dari berbagai pihak, termasuk dari Penanggung Jawab Posko Pengungsi Stadion Maguwoharjo, Budiharjo. Ketika Jalin Merapi mengecek di gudang-gudang bantuan di Stadion Maguwoharjo, tampak bantuan yang menumpuk, terutama di gudang barat dan gudang selatan.

Prosedur yang Panjang

Sebagai posko utama yang sering disorot media massa, dengan jumlah pengungsi yang cukup besar, lebih kurang 6.500 orang (menurut keterangan Budiharjo pada Jumat, 19/11), sangat wajar bantuan mengalir deras ke Maguwoharjo. Sayangnya, bantuan yang mengalir lancar ini tidak diikuti dengan kemudahan prosedur pengeluaran bantuan.

Pengungsi di Stadion Maguwoharjo dibagi ke dalam kelompok-kelompok pengungsi. Jumlah anggota dalam satu kelompok beragam, antara 50 hingga 150 orang. Setiap kelompok dipimpin seorang ketua yang memegang kartu kendali pengungsi. Hanya mereka yang memegang kartu kendali pengungsi inilah yang bisa mengajukan bantuan ke pengelola posko.

Untuk makan harian, para ketua kelompok atau wakilnya harus datang ke dapur umum, antri untuk mengambil makanan bagi anggota mereka. Karena banyaknya jumlah pengungsi, seringkali antrian terlalu panjang. Tidak jarang, sarapan baru bisa didapatkan pukul 10.00 WIB. “Kemarin saja, jam setengah sebelas kita baru dapat makan pagi,” ungkap Sri Sulastri (28), Wakil Ketua Kelompok Lantai 1 blok 7 B, pada Selasa (16/11).

Antrian panjang jatah makan harian tersebut membuat pengungsi lebih sering mengandalkan stok makanan yang berupa mi instan. Masalahnya, untuk meminta bantuan selain makan harian, prosedurnya tidak semudah antri jatah makan. Bagi para pengungsi di Maguwoharjo, ada empat tahap yang harus dilalui untuk bisa mengambil bantuan yang menumpuk di gudang.

Pertama, ketua kelompok pengungsi harus mengisi lengkap formulir “Bukti Penyaluran Barang”. Kedua, meminta persetujuan dari Penanggung Jawab Pos Bantuan, dalam hal ini camat asal para pengungsi. Jadi, para pengungsi yang berasal dari Cangkringan harus meminta persetujuan dari Camat Cangkringan, bagitu juga pengungsi asal Pakem harus meminta persetujuan dari Camat Pakem. Di Stadion Maguwoharjo, terdapat dua kecamatan yang membuka kantor darurat, yaitu Cangkringan dan Pakem. Sementara, pengungsi di Maguwoharjo berasal dari Cangkringan, Pakem, Turi, Ngemplak, serta Ngaglik.

Setelah mendapatkan tandatangan petugas dan stempel kecamatan di formulir “Bukti Penyaluran Barang”, ketua kelompok pengungsi harus mendatangi meja penanggungjawab utama posko, serta mendapatkan pengesahan berupa tandatangan dan stempel “Komando Tanggap Darurat Bencana Gunungapi Merapi Pemerintah Kabupaten Sleman”. Langkah terakhir, setelah memperoleh dua buah stempel, ketua kelompok pengungsi harus mendatangi gudang bantuan untuk mengambil barang sesuai yang tertera di formulir. Bantuan diterima, formulir disimpan oleh petugas gudang.

Budiharjo menerangkan, kebijakan ini diberlakukan sejak 9 November 2010 lalu. Sebelumnya, para pengungsi, secara perorangan, bisa langsung mengambil bantuan. Budiharjo menyatakan bahwa prosedur tersebut diberlakukan untuk menjamin bahwa penerima bantuan benar-benar pengungsi, bukan pihak lainnya yang bermaksud mengambil keuntungan dari situasi yang ada. “Prosedur ini juga untuk memudahkan distribusi bantuan, agar bisa diterima secara merata,” jelasnya.

Eko Teguh Paripurno, aktivis Masyarakat Peduli Bencana Indonesia, menyatakan bahwa memang harus ada administrasi yang tertib dalam mengelola bantuan bencana. Menurutnya, administrasi tersebut diadakan untuk menjaga tiga prinsip, yaitu keadilan, kemerataan, dan keterbatasan barang. “Itu juga penting untuk ngajarin orang tertib administrasi,” ungkapnya. Namun, aktivis yang sekarang mengelola posko pengungsian UPN ini menegaskan, “Prosedur yang ada harus memudahkan. Kebutuhan-kebutuhan sehari-hari pengungsi harus tercukupi.” Karenanya, dia tidak setuju jika semua jenis bantuan harus dikeluarkan melalui prosedur tertentu. Dia mencontohkan, air minum atau air mineral akan lebih baik ditaruh saja di ruang tertentu, pengungsi yang mau minum langsung ambil.

Sementara, beberapa relawan yang bertugas di Maguwoharjo berpendapat bahwa prosedur yang ada terlalu birokratis. Welu (43), aktivis PMI yang bertugas di gudang selatan menyatakan, “Sebenarnya sih terlalu birokratis. Tapi gimana lagi, kita harus patuh pada satu aturan main.”

Cegah Korupsi, Perbaiki Pencatatan Bantuan

Setelah ketua kelompok pengungsi sampai di depan gudang bantuan, selesaikah masalah? Belum. Seringkali, jumlah bantuan yang diminta, yang tertera di formulir “Bukti Penyaluran Barang”, tidak sama dengan barang yang diberikan.

Sri Sulastri (28) yang memimpin 65 orang pengungsi menceritakan, “Kita minta aqua dan mi masing-masing 5 kardus, tapi biasanya cuma dapat satu atau dua. Padahal, satu kardus aqua dan mi tersebut untuk dua hari. Kadang biskuat cuma dikasih empat, padahal ada tujuh balita di sini.” Kepada Jalin Merapi, perempuan ini menunjukkan formulir “Bukti Penyaluran Barang” yang telah dia isi namun belum sempat diurus sesuai prosedur yang ada. Tertulis di formulir tersebut berbagai jenis barang yang akan diminta. Urutan teratas adalah mi instan dan air mineral. Di urutan selanjutnya, daftar permintaan masih panjang, mulai dari sabun, selimut, jarik, dan lainnya. Sri Sulastri menegaskan, “Dari sekian daftar permintaan barang, yang dikasih cuma aqua dan mi, yang lain tidak.”

Ketika Jalin Merapi melakukan cek silang kepada beberapa relawan di gudang bantuan, mereka menyatakan bahwa pemenuhan permintaan pengungsi mempertimbangkan stok dan pemerataan bantuan. Dody Setiawan, relawan asal STMIK Amikom yang bertugas di gudang timur, menjelaskan, “Ya kita lihat sesuai jumlah anggota kelompoknya, sesuai kebutuhan mereka.” Dody memberi contoh, jika anggota kelompok cuma 50 orang, namun meminta 4 kardus aqua, paling hanya akan diberi satu atau dua kardus. Serupa dengan Dody, Welu menyatakan bahwa bantuan yang diberikan sesuai dengan stok yang ada dan kebutuhan pengungsi.

Terkait dengan hal ini, Eko Teguh mengingatkan, “Harus ada catatan yang jelas tentang jumlah barang yang dikeluarkan, untuk menghindari korupsi bantuan.” Pernyataan Eko ini penting mengingat daftar dan jumlah barang yang tertulis di formulir “Bukti Penyaluran Barang” seringkali tidak sesuai dengan jumlah bantuan yang senyatanya diberikan pada pengungsi. Ketika Jalin Merapi mengecek di salah satu gudang bantuan, seorang relawan memberikan contoh formulir “Bukti Penyaluran Barang” yang telah selesai diproses. Di formulir itu tampak coret-coretan yang menunjukkan jumlah barang yang diberikan. Yang menjadi pertanyaan, apakah coretan serupa yang menunjukkan realitas bantuan yang diberikan ada di setiap formulir “Bukti Penyaluran Barang”? Apakah terdapat rekapitulasi yang teratur dan lengkap atas alur barang masuk dan keluar?

Pembagian Gudang, Potensi Kecemburuan Antarpengungsi

Pengungsi di Maguwoharjo hanya bisa mengambil bantuan di satu gudang tertentu sesuai tempat mengungsinya. Di stadion ini terdapat 4 gudang, yaitu gudang barat, timur, selatan, dan utara. Gudang barat ditujukan untuk pengungsi di luar Stadion Maguwoharjo, gudang selatan untuk pengungsi di lantai dasar Stadion Maguwoharjo, gudang timur untuk pengungsi di lantai 1 Stadion Maguwoharjo, dan gudang utara untuk pengungsi lantai 2 Stadion Maguwoharjo.

Welu, relawan di gudang selatan, membenarkan sistem pemisahan bantuan berdasar gudang tersebut. “Kita hanya melayani pengungsi di lantai dasar, lebih kurang 100 kantong pengungsi.” Sri Sulastri, pengungsi yang menempati lantai 1 Stadion Maguwoharjo menyatakan hal serupa. “Kita hanya bisa ambil di gudang di bawah ini, gudang lainnya nggak bisa”, ungkapnya sambil menunjuk gudang timur yang berada persis di bawah tempat dia mengungsi.

Problem lebih jauh, bantuan yang ada di sebuah gudang hanya terdata di gudang tersebut, tidak ada data keseluruhan bantuan di semua gudang. Selain itu, para pemberi bantuan bisa menyalurkan bantuan di semua gudang, tidak ada gudang utama yang menjadi pusat bantuan masuk. Ketika Jalin Merapi melakukan cek silang ke beberapa gudang, semua relawan yang bertugas di gudang membenarkan bahwa mereka memang diperbolehkan menerima bantuan dari berbagai sumber. Misalnya, ketika Jalin Merapi melakukan pengamatan di gudang timur pada Jumat petang menjelang Magrib (19/11), tampak bantuan datang ke gudang ini, diangkut sebuah mobil.

Lalu, apa masalahnya? Jumlah barang yang ada di gudang tentu saja akan berpengaruh pada jumlah bantuan yang diterima pengungsi. Padahal, jumlah barang di tiap gudang berbeda-beda. Observasi Jalin Merapi pada Jumat sore (19/11) menunjukkan bahwa bantuan menumpuk di gudang barat dan selatan, sementara gudang timur hanya menyimpan sedikit stok barang. Akibat selanjutnya, sangat mungkin muncul kecemburuan antar pengungsi.

Kecemburuan sosial itu mulai tercium. Misalnya seperti diungkapkan Hartosuwarno (59) dan Hartiwiyono (62), keduanya pengungsi dari Wukirsari, Cangkringan, yang menempati lantai 1 Stadion Maguwoharjo. “Pengungsi di lantai bawah itu apa-apa dapat, sedikit-sedikit dapat bantuan, kita kok susah banget minta bantuan,” ungkap Hartiwiyono.

Parahnya, antar gudang bantuan tidak terdapat koordinasi yang rapi. Harusnya, jika sebuah gudang kehabisan stok barang, bisa meminta di gudang lain. Kenyataannya tidak seperti itu. Dody, relawan di gudang timur mengeluhkan susahnya meminta bantuan di gudang selatan. “Sama-sama posko, nembusin susah,” ungkapnya.

Eko Teguh berpendapat harusnya gudang hanya berfungsi sebagai outlet, pengungsi bisa mengambil bantuan dimanapun. “Gudang sesungguhnya bersifat maya, berupa data lengkap barang yang ada,” jelasnya. Menurutnya, jika terdapat sistem data bantuan yang menyatu, tidak akan ada masalah ketika pengungsi mengambil bantuan di gudang manapun.

Kelompok Rentan, 'Ngecer' Bantuan dan Prinsip Pemerataan

Bagi lansia, anak-anak, atau kelompok rentan lainnya, prosedur meminta bantuan yang cukup panjang tersebut tidak cukup ramah.

Hartiwiyono mengisahkan bahwa dia pernah tiga kali antri untuk meminta selembar jarik. Ketika antri untuk pertama dan kedua kali, dia memilih mundur karena capek menunggu antrian yang panjang. Pada kesempatan ketiga, nenek dari Wukirsari, Cangkringan ini akhirnya sampai di depan petugas gudang. Bukan jarik yang dia dapat, justru pernyataan dari petugas gudang, “Ngangge tulisan nggih Mbah (pakai tulisan ya Mbah).” Bingung dengan apa yang dimaksud petugas, Nenek Harti akhirnya kembali dengan tangan kosong. Di kesempatan lain, karena gatal di kulit, Nenek Harti bermaksud mengganti selimut hitam yang telah dia dapat dengan selimut bercorak garis-garis hitam putih. Dia justru mendapatkan jawaban ketus dari petugas, “Menawi mboten purun, mboten usah nyuwun (kalau tidak mau, tidak usah minta)”.

Hartosuwarno mempunyai pengalaman serupa. Sampai di depan petugas gudang, dia mendapatkan jawaban petugas bahwa untuk meminta bantuan harus dengan tulisan. Dia berinisiatif meminta tolong petugas untuk menuliskan permintaan dia, namun bantuan tidak turun juga.

Barangkali, dengan model pembagian kelompok, diasumsikan bahwa kebutuhan para lansia, bayi, anak-anak, dan kelompok rentan lainnya akan tercukupi dengan permintaan yang diajukan ketua kelompok. Dalam praktiknya, ternyata kebutuhan kelompok rentan ini seringkali tidak terpenuhi dengan model pengajuan oleh ketua kelompok. Tidak semua ketua kelompok sensitif dengan kebutuhan kelompok rentan ini. Contoh nyata, Hartosuwarno sempat mengeluh pada Jalin Merapi, “Ketua kelompok kulo niku mboten purun ngajukaken bantuan kangge kelompokipun (ketua kelompok saya itu tidak mau mengajukan bantuan bagi kelompoknya).”

Ketidaktahuan lansia, anak-anak, dan banyak pengungsi lainnya mengenai prosedur meminta bantuan membuat mereka lebih memilih “mengecer” dalam meminta bantuan. Mereka datang langsung ke gudang bantuan dan meminta bantuan sekadarnya dalam jumlah kecil sesuai kebutuhan mereka, misalnya sebatang sabun, satu bungkus detergen, atau satu botol air mineral. Semua relawan yang bertugas di gudang membenarkan fenomena “ngecer” tersebut. Mereka menyatakan kalau cuma satu atau dua barang, langsung saja minta ke gudang, tidak perlu melalui prosedur resmi.

Mekanisme ngecer bantuan itu cukup membantu para pengungsi yang tidak mampu mengakses bantuan melalui prosedur resmi. Sayangnya, model ngecer ini telah dilarang oleh Penanggung Jawab Posko Maguwoharjo sejak empat hari terakhir ini. “Sekarang ngecer tidak bisa lagi, kita dimarahi posko utama,” terang Dody.

Ketika Jalin Merapi mengkonfirmasi kepada Budiharjo pada Jumat lalu (19/11), dia membenarkan adanya pelarangan pemberian bantuan model ngecer tersebut. “Hal itu dilakukan untuk pemerataan bantuan dan mencegah kecemburuan antarpengungsi,” tegasnya. Sebuah pertanyaan penting harus diajukan, jika ngecer bantuan tidak bisa lagi, bagaimana para lansia dan kelompok rentan lainnya mengakses bantuan? Apakah ada akses khusus yang mempermudah mereka memperoleh bantuan? Jika tidak ada, bisa jadi bukan pemerataan bantuan yang terjadi, namun sebaliknya.

*****

Observasi Jalin Merapi di Stadion Maguwoharjo selama beberapa hari menunjukkan bahwa jumlah pengungsi terus menurun. Data resmi yang ada, per 15 November 2010, pengungsi di stadion ini berjumlah 9.492 orang. Penanggung jawab posko, Budiharjo, memperkirakan jumlah real pengungsi lebih kurang 6.500 orang (Jumat, 19/11). Di sisi lain, di beberapa gudang, bantuan masih menumpuk. Harus ada kebijakan yang menjamin bantuan tersebut tersalurkan dengan tepat. Eko Teguh mengingatkan, “Jika bantuan masih ada, sementara pengungsi sudah kembali ke rumah, penanggung jawab posko harus mengalokasikan tenaga untuk mendistribusikan bantuan.”(Muzayin Nazaruddin)

Labels: ,

Baca Selengkapnya ...

20 November 2010

Abu Masih Tebal, Kegiatan Transportasi Umum Terhambat


JALIN MERAPI (Magelang, 19/11/2010) — Jalan raya Muntilan hingga Magelang memang sudah dibersihkan dari material vulkanik seperti pasir dan abu. Namun, kalau ditengok sisi jalan lainnya, seperti jalan ke arah Ngluwar, Srumbung, Gulon, Sayangan, dan Tambakan, material vulkanik tersebut masih tersisa di jalanan.

Tidak hanya itu, lokasi penting seperti terminal Muntilan pun masih tertutup abu tebal. Setiap kali ada kendaraan yang melintas, abu-abu beterbangan dan sangat menggangu terutama bagi mereka yang berada di sekitarnya. Saat ini terminal memang sudah mulai difungsikan, tetapi karena masih banyak abu dan debu, terminal menjadi sangat sepi. Hanya beberapa bis dan angkutan umum yang ngetem di terminal tersebut. Warung dan pedagang asongan juga belum beroperasi seperti sediakala.

Meski sudah dua pekan Merapi meletus yang membuat abunya menyelimuti hampir seluruh Magelang, kondisi di terminal ini masih penuh abu. Para supir angkutan kota (angkot) juga mengeluhkan hal ini. “Masa baru kemarin mulai dibersihkan. Padahal, kami bayar setiap kali masuk,” keluh seorang supir angkot. Biaya retribusi setiap angkutan umum untuk sekali masuk ke terminal berbeda-beda tergantung jenis kendaraannya. Seperti, kopata dan bis ukuran kecil membayar Rp 2.500, sedangkan bis reguler Rp 3.000.

Para supir angkutan umum yang sedang menunggu penumpang ini tak henti-hentinya mengeluhkan kondisi ini. “Intinya mereka enggak bertanggungjawab,” tukas seorang supir lainnya yang merujuk pada petugas Dinas Lalu Lintas Angkutan Jalan Raya (DLLAJR). Karena lambatnya pembersihan ini, kini mereka harus menunggu penumpang sambil menghirup debu yang beterbangan di berbagai sudut terminal.(Sulistiyawati)

Labels: ,

Baca Selengkapnya ...

19 November 2010

Dari Balerante hingga Babarsari, Tujuh Kali Pindah Mengungsi


JALIN MERAPI – “Walah arep pindah meneh?” (Mau pindah lagi?) seru Haryati, pengungsi dari Desa Balerante, Kecamatan Turi, Sleman saat melihat barang-barang para pengungsi yang telah dirapikan. Seruan itu juga turut mengagetkan para pengungsi lainnya yang telah letih pindah berkali-kali.

Haryati terkejut melihat barang-barang mereka sudah dikemas. Tidak kurang dari 300 pengungsi dari desanya telah tujuh kali berpindah tempat pengungsian. Pengungsian pertama berada di gedung sekolah, tepatnya di SD Banyu Urip Wonokerto. Akan tetapi, karena ruangan kelas akan dipakai, warga akhirnya pindah ke Gedung Serbaguna P3A Pengairan Kembang. Pada Kamis (4/11/2010) malam warga berencana dievakuasi lagi ke Masjid Agung Kabupaten Sleman karena aktivitas gunung kian meningkat. “Katanya (masjid) ini bukan untuk tempat pengungsian,” kata Irwan, koordinator para pengungsi tersebut menjelaskan alasan para pengungsi harus mencari lokasi lain.

Dari Masjid Agung warga dipindah ke SD Mangunan Medari. Namun, berhubung di lokasi ini air bersih untuk MCK tidak tersedia, warga pun pindah lagi ke SMK Muhammadiyah 2 Sleman. Sayangnya, lokasi ini telah dipadati juga oleh pengungsi lain. Lagi-lagi, warga harus mencari tempat baru dan tibalah mereka di SMA 1 Medari, Sleman.

Namun, derita pengungsi ternyata tidak berhenti sampai di situ. Jumat (5/11/2010) dini hari itu Merapi meletus hebat. Hujan abu lebat disertai pasir menyelimuti hampir seluruh wilayah provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Ketika hal itu terjadi, warga juga tengah ditinggalkan Ketua RT dan RW karena masing-masing mengungsi di rumah saudara mereka ke luar kota di Temanggung, Semarang, dan Wonosobo. “Warga tidak ada yang berani mencegah,” kata Irwan teringat malam itu.

“Saya waktu itu bingung mau menghubungi siapa. Semua kontak ada di Pak RT dan Pak RW. Nah, mereka sudah pergi. Ya, mau gimana lagi,” katanya. Suara gemuruh Gunung Merapi ditambah terputusnya aliran listrik dan patahnya dahan-dahan pohon semakin memompa rasa khawatir para pengungsi. “Sedikit saja ada suara pohon tumbang, jantung mereka berdesir, wajah mereka cemas dan kaget,” kenang Irwan dan beberapa pengungsi lainnya.

Saat itu, mobil evakuasi sudah turun semua. Irwan mencoba menghubungi Ketua RT dan RW untuk meminta nomor salah satu anggota Satkorlak. Menurut Irwan, malam itu Satkorlak susah sekali dihubungi. “Wargapun sempat marah-marah saking paniknya. Wah, enggak tahu lagi harus bagaimana,” keluh Irwan. Terpaksa warga diungsikan dengan dua mobil seadanya. Satu mobil bak terbuka dan satu lagi mobil bak tertutup. “Sudah tak peduli lagi berapa kapasitas maksimal idealnya, asal masih muat ya masuk saja,” imbuhnya.

Tim evakuasi menjelaskan bahwa warga akan dibawa ke posko pengungsian Stadion Maguwoharjo. Irwan tambah bingung lagi karena tidak ada informasi yang diterima sebelumnya mengenai hal ini. Warga yang sudah panik tak sabar lagi ingin segera pergi. Saat itu, hal yang terlintas pertama di pikiran Irwan hanya satu. “Kalau ke Maguwoharjo pasti akan sangat ramai. Kasihan warga yang sudah tua, lagipula juga banyak balita. Ada lebih dari 40 warga berusia lanjut dan 20 balita,” paparnya.

Di tengah jalan, kendaraan yang menampung mereka berbelok arah dan justru menjauhi Stadion Maguwoharjo. Akhirnya koordinator pengungsi dan rekan-rekannya segera mencari lokasi lain. Kebetulan ada informasi dari Kepala Dusun Balerante yang menyatakan bahwa di daerah Babarsari, Sleman, yang berada di sisi timur kota Yogyakarta ada lokasi pengungsian. Sampailah mereka di Bumi Perkemahan Babarsari dan mengungsi di sana hingga sekarang, menghapus kekhawatiran sembari merajut harapan untuk hari depan. (Sulistiyawati, Ibnu Darmawan)

Laporan ini merupakan kerjasama antara Jalin Merapi, Program Peduli Merapi Radio Republik Indonesia, dan Program Studi Ilmu Komunikasi UII

Labels: ,

Baca Selengkapnya ...

Anak-anak Pengungsi Outbound


Tanggal 18 November 2010 anak-anak pengungsi refresing memulihkan trauma dengan mengunjungi tempat pariwisata di Karanganyar , usaha yang seperti ini tentu sangat berbeda dengan pengungsi yang di tangani Pemkab Klaten . Layaknya sHewan ternak yang penting makan dan tidur tidak boleh protes, tak ada perhatian pendidikanya,kesehatanya.

Logistik Masuk Satlak Lancar sampai Ke Pengungsi Seret

Bantuan terus mengalir dari perorangan dan lembaga tetapi , logistik2 tersebut susah keluarnya , bahkan ada beberapa warga yang melihat logistik masuk sebentar di pindah truk dan lenyap. “Apakah hal semancam ini tidak ada pengawasan dari pihak BPBD ,BNPB, atau LSM yang biasanya berteriak keras ada apa ini?” kata Pengungsi yang kecewa.

Warga Tegalmulyo Pindah

Dari pengungsian Pemda (Pendopo Kabupaten), hingga Balai desa dan Masjid-masjid, itulah yang terjadi pengungsi Dari desa Tegalmulyo, mereka jenuh mengngungsi di Pemda Klaten dan mendirikan pengungsian Swadaya di Balai Desa Tegalmulyo dan Masjid di sekitar Karangnongko Klaten.(kim-LM)@jalinmerapi

Labels: ,

Baca Selengkapnya ...






About me

Powered by FeedBurner Add to Google Reader or Homepage

Unen - unen

"Carilah kekuatan di gelapnya malam, di sujud-sujud panjang, di syahdunya tilawah, di laparnya shaum. Sesungguhnya setiap hamba itu lemah dan hanya Alloh Ta'alaa Pemilik Kekuatan Sempurna"

"Sungguh unik pribadi orang beriman semua perkara yang ada padanya adalah baik. Jika bahagia dia bersyukur dan jika berduka dia bersabar dan itu baik baginya"

Empat Kunci kebahagiaan hidup :
  • Memelihara prasangka baik,
  • Menegakkan sholat malam,
  • Memperbanyak tilawah Al-Qur'an,
  • Ikhlas dan tawakal atas keputusan Alloh.

  • Ketahuilah bahwa sabar, jika dipandang dalam permasalahan seseorang adalah ibarat kepala dari suatu tubuh. Jika kepalanya hilang maka keseluruhan tubuh itu akan membusuk. Sama halnya, jika kesabaran hilang, maka seluruh permasalahan akan rusak. ( Khalifah 'Ali )

    Sabar memiliki dua sisi, sisi yang satu adalah sabar, sisi yang lain adalah bersyukur kepada Allah. ( Ibnu Mas'ud )


    My Photo


    Mybloglog


    Donate Me


    My Links

    Blog Shoes Shop Blogger Indonesia Blog Tutorial    Kolom blog tutorial My Daily Thoughts Kedungbrita Indonesia Kemarin
    Links to Site

    Aggregator

      blog-indonesia 

    RSS Feeds

      Powered by  MyPagerank.Net Add to Pageflakes Subscribe in Bloglines Add MEDITATE | PERSONAL | PERENUNGAN to Newsburst from CNET News.com

    Make money online


    Ingin mendapat pengasilan dari web anda? Click button di bawah ini
    Text Link Ads

    Ayo Ngeblog


    BANTULKU



    P a r t n e r

    Adsense Indonesia

    eXTReMe Tracker

    Google