« HOME | Anak-anak Pengungsi Outbound » | Desktop Virtualization » | AGAMA ISLAM SOLUSI SELURUH RASA KETAKUTAN DAN MASA... » | MERAIH KESUKSESAN DENGAN KESABARAN » | DIBALIK FENOMENA FACEBOOK » | MEREKA MENINGGAL DEMI UANG Rp. 30.000 » | Si Pengacau Yang Meluruskan Arah Kiblat Kami » | MAMPUKAH KITA MENCINTAI TANPA SYARAT » | Dasar Keharaman Menggambar Wajah Nabi Muhammad SAW... » | Dalam Munajatku..! »

Dari Balerante hingga Babarsari, Tujuh Kali Pindah Mengungsi


JALIN MERAPI – “Walah arep pindah meneh?” (Mau pindah lagi?) seru Haryati, pengungsi dari Desa Balerante, Kecamatan Turi, Sleman saat melihat barang-barang para pengungsi yang telah dirapikan. Seruan itu juga turut mengagetkan para pengungsi lainnya yang telah letih pindah berkali-kali.

Haryati terkejut melihat barang-barang mereka sudah dikemas. Tidak kurang dari 300 pengungsi dari desanya telah tujuh kali berpindah tempat pengungsian. Pengungsian pertama berada di gedung sekolah, tepatnya di SD Banyu Urip Wonokerto. Akan tetapi, karena ruangan kelas akan dipakai, warga akhirnya pindah ke Gedung Serbaguna P3A Pengairan Kembang. Pada Kamis (4/11/2010) malam warga berencana dievakuasi lagi ke Masjid Agung Kabupaten Sleman karena aktivitas gunung kian meningkat. “Katanya (masjid) ini bukan untuk tempat pengungsian,” kata Irwan, koordinator para pengungsi tersebut menjelaskan alasan para pengungsi harus mencari lokasi lain.

Dari Masjid Agung warga dipindah ke SD Mangunan Medari. Namun, berhubung di lokasi ini air bersih untuk MCK tidak tersedia, warga pun pindah lagi ke SMK Muhammadiyah 2 Sleman. Sayangnya, lokasi ini telah dipadati juga oleh pengungsi lain. Lagi-lagi, warga harus mencari tempat baru dan tibalah mereka di SMA 1 Medari, Sleman.

Namun, derita pengungsi ternyata tidak berhenti sampai di situ. Jumat (5/11/2010) dini hari itu Merapi meletus hebat. Hujan abu lebat disertai pasir menyelimuti hampir seluruh wilayah provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Ketika hal itu terjadi, warga juga tengah ditinggalkan Ketua RT dan RW karena masing-masing mengungsi di rumah saudara mereka ke luar kota di Temanggung, Semarang, dan Wonosobo. “Warga tidak ada yang berani mencegah,” kata Irwan teringat malam itu.

“Saya waktu itu bingung mau menghubungi siapa. Semua kontak ada di Pak RT dan Pak RW. Nah, mereka sudah pergi. Ya, mau gimana lagi,” katanya. Suara gemuruh Gunung Merapi ditambah terputusnya aliran listrik dan patahnya dahan-dahan pohon semakin memompa rasa khawatir para pengungsi. “Sedikit saja ada suara pohon tumbang, jantung mereka berdesir, wajah mereka cemas dan kaget,” kenang Irwan dan beberapa pengungsi lainnya.

Saat itu, mobil evakuasi sudah turun semua. Irwan mencoba menghubungi Ketua RT dan RW untuk meminta nomor salah satu anggota Satkorlak. Menurut Irwan, malam itu Satkorlak susah sekali dihubungi. “Wargapun sempat marah-marah saking paniknya. Wah, enggak tahu lagi harus bagaimana,” keluh Irwan. Terpaksa warga diungsikan dengan dua mobil seadanya. Satu mobil bak terbuka dan satu lagi mobil bak tertutup. “Sudah tak peduli lagi berapa kapasitas maksimal idealnya, asal masih muat ya masuk saja,” imbuhnya.

Tim evakuasi menjelaskan bahwa warga akan dibawa ke posko pengungsian Stadion Maguwoharjo. Irwan tambah bingung lagi karena tidak ada informasi yang diterima sebelumnya mengenai hal ini. Warga yang sudah panik tak sabar lagi ingin segera pergi. Saat itu, hal yang terlintas pertama di pikiran Irwan hanya satu. “Kalau ke Maguwoharjo pasti akan sangat ramai. Kasihan warga yang sudah tua, lagipula juga banyak balita. Ada lebih dari 40 warga berusia lanjut dan 20 balita,” paparnya.

Di tengah jalan, kendaraan yang menampung mereka berbelok arah dan justru menjauhi Stadion Maguwoharjo. Akhirnya koordinator pengungsi dan rekan-rekannya segera mencari lokasi lain. Kebetulan ada informasi dari Kepala Dusun Balerante yang menyatakan bahwa di daerah Babarsari, Sleman, yang berada di sisi timur kota Yogyakarta ada lokasi pengungsian. Sampailah mereka di Bumi Perkemahan Babarsari dan mengungsi di sana hingga sekarang, menghapus kekhawatiran sembari merajut harapan untuk hari depan. (Sulistiyawati, Ibnu Darmawan)

Laporan ini merupakan kerjasama antara Jalin Merapi, Program Peduli Merapi Radio Republik Indonesia, dan Program Studi Ilmu Komunikasi UII

Labels: ,

Links to this post

Create a Link


Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...






About me

Powered by FeedBurner Add to Google Reader or Homepage

Unen - unen

"Carilah kekuatan di gelapnya malam, di sujud-sujud panjang, di syahdunya tilawah, di laparnya shaum. Sesungguhnya setiap hamba itu lemah dan hanya Alloh Ta'alaa Pemilik Kekuatan Sempurna"

"Sungguh unik pribadi orang beriman semua perkara yang ada padanya adalah baik. Jika bahagia dia bersyukur dan jika berduka dia bersabar dan itu baik baginya"

Empat Kunci kebahagiaan hidup :
  • Memelihara prasangka baik,
  • Menegakkan sholat malam,
  • Memperbanyak tilawah Al-Qur'an,
  • Ikhlas dan tawakal atas keputusan Alloh.

  • Ketahuilah bahwa sabar, jika dipandang dalam permasalahan seseorang adalah ibarat kepala dari suatu tubuh. Jika kepalanya hilang maka keseluruhan tubuh itu akan membusuk. Sama halnya, jika kesabaran hilang, maka seluruh permasalahan akan rusak. ( Khalifah 'Ali )

    Sabar memiliki dua sisi, sisi yang satu adalah sabar, sisi yang lain adalah bersyukur kepada Allah. ( Ibnu Mas'ud )


    My Photo


    Mybloglog


    Donate Me


    My Links

    Blog Shoes Shop Blogger Indonesia Blog Tutorial    Kolom blog tutorial My Daily Thoughts Kedungbrita Indonesia Kemarin
    Links to Site

    Aggregator

      blog-indonesia 

    RSS Feeds

      Powered by  MyPagerank.Net Add to Pageflakes Subscribe in Bloglines Add MEDITATE | PERSONAL | PERENUNGAN to Newsburst from CNET News.com

    Make money online


    Ingin mendapat pengasilan dari web anda? Click button di bawah ini
    Text Link Ads

    Ayo Ngeblog


    BANTULKU



    P a r t n e r

    Adsense Indonesia

    eXTReMe Tracker

    Google